Sukses adalah perjalanan

Kaisar Yustianus I

Posted on: November 24, 2011


Justinianus I, umumnya dikenal dengan nama Justinianus yang Agung, adalah Kaisar Romawi Timur (Bizantium) yang berkuasa dari tahun 527 hingga 565. Pada masa kekuasaannya, ia berusaha mengembalikan kejayaan kekaisaran dan menaklukkan kembali bagian barat Kekaisaran Romawi.

Ia merupakan salah satu tokoh terpenting pada abad kuno. Masa kekuasaannya ditandai dengan renovatio imperii (restorasi kekaisaran) yang ambisius.Ambisi ini ditunjukkan melalui pemulihan sebagian wilayah Kekaisaran Romawi Barat, termasuk kota Roma sendiri. Selain itu, pada masa kekuasaannya, ditulis hukum Romawi Corpus Juris Civilis yang masih menjadi dasar bagi hukum masyarakat di negara-negara modern. Pada masanya pula, budaya Bizantium berkembang, dan program pembangunannya melahirkan karya-karya besar, seperti pembangunan kembali Hagia Sophia yang menjadi pusat Ortodoks Timur selama berabad-abad.

Justinianus dianggap sebagai santo oleh orang-orang yang menganut agama Ortodoks Timur. Ia juga dikenang dalam beberapa Gereja Lutheran. Ia adalah kaisar terakhir yang menuturkan Latin sebagai bahasa ibu.

 

Biografi Kaisar Yustianus I

Justinianus lahir di Tauresium, Provinsi Dardania (letak tepatnya masih diperdebatkan, kemungkinan di dekat Lebane, Serbia Selatan, atau Taor di dekat Skopje, Republik Makedonia), tahun 483. Keluarganya yang berbahasa Latin diduga memiliki asal usul Trako-Romawi atau Illyro-Romawi.Nama ayahnya adalah Sabbatius, sedangkan ibunya bernama Vigilantia.

Cognomen Iustinianus yang didapatnya menunjukkan bahwa ia diadopsi oleh pamannya (yang juga saudara kandung Vigilantia), Justinus. Justinus adalah seorang penjaga kekaisaran (atau excubitores). Ia membawa Justinianus ke Konstantinopel dan menjamin pendidikan anak itu. Maka Justinianus memiliki pendidikan dalam bidang yurisprudensi, teologi, dan sejarah Romawi. Ia pernah bekerja selama beberapa waktu dengan excubitores, tetapi informasi lengkap mengenai karier awalnya kurang diketahui. Penulis kronik John Malalas, yang hidup pada masa kekuasaan Justinianus, mendeskripsikan penampilan Justinianus yang pendek, berkulit putih, berambut keriting, berwajah bundar, dan rupawan. Procopius, penulis kronik lain, membandingkan penampilan Justinianus dengan kaisar tiran Domitianus, walaupun ini mungkin tidak benar.

Ketika Kaisar Anastasius mangkat pada tahun 518, Justinus dinyatakan sebagai kaisar baru, dengan bantuan dari Justinianus. Selama masa kekuasaan Justinus (518–527), Justinianus adalah tangan kanan kaisar. Ia telah menunjukkan banyak ambisi. Ketika Justinus menjadi semakin pikun pada akhir kekuasaannya, Justinianus menjadi penguasa de facto. Justinianus ditunjuk sebagai konsul pada tahun 521, dan selanjutnya menjadi komandan angkatan bersenjata timur. Setelah wafatnya Justinus I pada 1 Agustus 527, Justinianus menjadi penguasa penuh.

Sebagai penguasa, Justinianus menunjukkan semangat yang besar. Ia dikenal sebagai “kaisar yang tidak pernah tidur” dalam catatan mengenai etos kerjanya. Justinianus juga dikenal bersedia menerima nasihat dan mudah didekati. Keluarga Justinianus berasal dari latar belakang yang rendah, sehingga ia tidak memiliki dasar kekuatan di aristokrasi lama Konstantinopel. Akan tetapi, Justinianus dikelilingi oleh bawahan-bawahan yang berbakat, yang dipilih bukan berdasarkan latar belakang aristokrat, tetapi atas dasar jasa. Sekitar tahun 525, ia menikahi Theodora, seorang courtesan (“pemberi asmara” di istana) yang dua puluh tahun lebih muda darinya. Menurut hukum lama, Justinianus tak bisa menikahinya karena kelas sosialnya, tetapi Kaisar Justinus I telah mengesahkan hukum yang memperbolehkan pernikahan antar kelas sosial yang berbeda. Theodora akan menjadi tokoh yang berpengaruh dalam politik Kekaisaran, dan kaisar-kaisar selanjutnya akan mengikuti jejak Justinianus dalam menikah diluar kelas aristokrat. Pernikahan ini menimbulkan skandal, tetapi Theodora terbukti merupakan tokoh yang pintar, penilai karakter yang baik, dan pendukung terbesar Justinianus.

Ia terjangkit penyakit pes pada awal tahun 540-an, tetapi berhasil sembuh. Theodora meninggal pada tahun 548, kemungkinan karena kanker, dalam usia yang relatif muda. Justinianus, yang tertarik dengan masalah teologis dan banyak terlibat dalam debat mengenai doktrin Kristen, menjadi semakin setia kepada agama pada masa akhir hidupnya. Ketika meninggal dunia pada malam 13-14 November 565, ia tak memiliki anak. Justinianus digantikan oleh Justinus II. Jenazah Justinianus dimakamkan dalam mausoleum di Gereja Rasul Suci.

source : here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Calender

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 37,865 Pengunjung
%d bloggers like this: